Pengamatan

 

 

 

PENGAMATAN

Pengamatan adalah kegiatan pengumpulan data dan informasi tentang sesuatu obyek yang diamati/dikaji/diteliti. Pengamatan bisa dilakukan secara berkala maupun insidentil. Ada beberapa maksud atau tujuan pengamatan yaitu pengamatan untuk pengumpulan data penelitian, pengamatan untuk penyusunan lapangan dan pengamatan untuk pengambilan keputusan. Kegiatan pengamatan yang dilakukan Balai Proteksi  Tanaman Perkebunan Salatiga adalah suatu pengamatan  untuk digunakan dalam proses pengambilan keputusan dalam pengelolaan Organisme Pengganggu Tanman itu di laksanakan adapun pengamatan tersebut dilaksanakan melalui  PEMANTAUAN.

Kegiatan pemantauan dalam PHT merupakan kegiatan utama yang membedakan sistem PHT dengan sistem pengendalian hama secara konvensional. Peranan pengamatan / pemantauan hama dan ekosistem dalam penerapan sistem PHT adalah sebagai berikut:

EKOSISTEM PERTANIAN, Pemantauan, Analisis Eko sistem, Pengambilan keputusan lalu di lakukan tindakan pengelolaan.

Dari gambaran tersebut, kegiatan pertama yang dilakukan adalah pemantauan ekosistem. Kegiatan pemantauan dilakukan untuk mengikuti perkembangan keadaan ekosistem pada suatu saat yang meliputi perkembangan komponen ekosistem, baik komponen biotik seperti keadaan tanaman, tingkat kerusakan tanaman oleh hama, populasi hama dan penyakit, populasi musuh alami dan lain-lain. Juga komponen abiotik seperti suhu, curah hujan, kebasahan, dll. Hasil pemantauan atau data hasil pemantauan dianalisis antara lain dengan membandingkan data ekosistem dengan nilai AK atau Ambang Kendali. Dari hasil analisis ekosistem dapat diambil keputusan mengenai tindakan pengendalian atau pengelolaan yang perlu diterapkan pada ekosistem. Hasil pengambilan keputusan segera diterapkan ke lapangan mengenai tindakan pengelolaan atau pengendalian seperti perbaikan budidaya tanaman, introduksi musuh alami, mengubah habitatnya, pengendalian dengan pestisida dalam bentuk Kimia penggunaannya di teken sedangkan pengendalian berbahan biologi dilaksanakan semaksimal mungkin agar tidak merusak lingkunan dan meracuni pelaksana perlindungan tanaman. Pengambil keputusan semakin ke bawah yaitu pada pihak pengelola dari ekosistem pertanian, seperti petani atau kelompok tani.

 

PETUNJUK PENGAMATAN OPT PERKEBUNAN
PENDAHULUAN

 

1. LATAR BELAKANG


Dalam budidaya tanaman perkebunan, perlindungan tanaman merupakan kegiatan yang penting, karena menjadi jaminan (assurance) bagi terkendalinya hama-penyakit tanaman atau Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).UU No. 12 tahun 1992 tentang Budidaya Tanaman dan PP No. 5 /1995 mengamanatkan bahwa pengendalian OPT dilaksanakan dengan Pengendalian Hama Terpadau (PHT) dan dalam pelaksanaanya menjadi tanggung jawab petani/masyarakat dan pemerintah.
PHT merupakan suatu cara pengelolaan OPT yang memperhatikan faktor teknis, ekonomis, ekologis dan sosiologis. Pengelolaan OPT diarahkan pada cara yang ramah lingkungan dan aman terhadap manusia. Penanganan dengan cara seperti ini menjadi semakin penting di era globalisasi karena sebagian besar produk perkebunan merupakan komoditi ekspor yang dituntut harus memenuhi persyaratan seperti mutu batas residu pestisida (BMR), kontiunitas pasokan agar mampu bersaing di tingkat pasar.
Paradigma baru dalam penerapan PHT adalah memberdayakan petani sehingga mampu mengelola bisnis kebunnya sebagai suatu agribisnis yang berbasis PHT. Dalam konsep ini petani diharapkan menjadi mampu dan mandiri serta dapat mengambil keputusan pengelolaan agroekosistem di areal pertanamannya secara optimal dan berkesinambungan berdasarkan prinsip-prinsip PHT.
Dalam implementasi PHT tersebut, pengamatan merupakan kegiatan yang sangat penting. Dengan pengamatan akan dapat diketahui sejak dini situasi OPT dan kondisi faktor pengendali perkembangannya, sehingga ledakan (ekplosi) hama-penyakit dapat dicegah. Oleh karena itu pengamatan perlu dilakukan oleh petani secara periodik dikebunnya masing-masing.
Pengendalian OPT dilakukan berdasarkan hasil Analisis Agro Ekosistem (AAES) dengan tujuan lebih mengutamakan pada berfungsinya faktor pengendali alami seperti predator, parasitoid, dan patogen hama daripada menggunakan pestisida kimia. Namun
apabila dengan cara tersebut populasi dan serangan hama terus meningkat melampaui tingkat toleran ekonomis, petani dapat mempertimbangkan melakukan tindakan pengendalian dengan menggunakan pestisida kimia.
Pengamatan adalah salah satu tahapan dalam kegiatan perlindungan tanaman perkebunan yang meliputi pengumpulan informasi tentang populasi dan atau tingkat serangan OPT perkebunan serta keadaan pertanaman dan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan OPT tersebut. Idealnya pengamatan dilakukan sendiri oleh petani pemilik kebun secara berkelompok di bawah bimbingan petugas perlindungan perkebunan.
Pengamatan OPT oleh petugas pengamat hama bersama-sama dengan kelompok tani harus dilaksanakan secara profesional, teratur dan berkesinambungan terutama terhadap OPT penting pada komoditi utama di wilayah kerjanya dalam upaya meminimalkan kehilangan produksi akibat OPT.

2. BATASAN DAN TUGAS PENGAMAT HAMA

1.Definisi/batasan Petugas Pengamat Hama
Petugas pengamat hama adalah petugas yang mempunyai keahlian dan kemampuan dalam melakukan pengamatan OPT dan ekosistemnya (pada komoditi perkebunan) serta membimbing petani dalam melaksanakan pengamatan OPT. Petugas pengamat hama merupakan Unit Pembinaan Perlindungan Perkebunan (UPPT) yang berkedudukan di kabupaten atau Kecamatan. Petugas ini harus selalu berkoordinasi dengan Dinas Perkebunan dan dapat merupakan Petugas Dinas Kabupaten yang menangani Perlindungan Perkebunan.
2.Tugas Pengamat Hama
a. Melakukan bimbingan tentang teknik pengamatan dan cara pengendalian OPT kepada Kelompok tani dan regu proteksi (petani).
b. Melakukan pengamatan dan kompilasi OPT penting pada komoditi utama di wilayah kerjanya serta menginformasikan hasil pengamatannya kepada petani (pemilik kebun) untuk dapat mengambil keputusan pengendalian.
c. Melakukan kompilasi dan analisis data pengamatan yang diperoleh dari regu proteksi petani secara sederhana untuk membentu petani dalam pengambilan keputusan.
d. Membantu Petani dalam pelaksanaan pemantauan dan evaluasi hasil pengendalian OPT yang telah dilaksanakan.
e. Dalam rangka membangun system peringatan dini (early warning system), petugas pengamatan menyampaikan laporan situasi OPT ke Dinas Kabupaten dengan tembusan ke Unit Pelaksana Teknis Daerah/Laboratorium Lapangan (UPTD/LL) secara berkala minimum setiap bulan. Apabila terindikasi peningkatan populasi OPT yang mengarah akan terjadinya eksplosi, maka petugas pengamat UPPT harus menginformasikan kepada petani untuk segera melakukan tindakan pengendalian dan melaporkan kepada Dinas Kabupaten agar secepatnya memfasilitasi petani dalam melakukan pengendalian secara massal dan serentak di areal yang terserang.
f. Membuat peta sebaran OPT penting pada komoditi utama di wilayah kerjanya.
g. Membuat koleksi OPT penting dan musuh alaminya secara sederhana.
h. Bekerjasama dengan aparat penyuluh di lapangan (PPL, pemandu Lapang, SL-PHT dll) dalam memberikan bimbingan dan penyuluhan kepada petani khususnya di bidang perlindungan perkebunan.

3. PELAKSANAAN PENGAMATAN

1. Wilayah pengamatan

a. Unit terkecil dari wilayah pengamatan adalah luasan kebun milik petani.
b. Luas satuan wilayah PHT adalah luas wilayah kelompok yang terdiri dari sejumlah kebun milik petani yang tergabung dalam satu hamparan kebun yang kompak pada satu daerah agro ekosistem. Luas bervariasi tergantung dari luas pemilikan dan jumlah anggota kelompok tani.
c. Wilayah pengamatan bagi petugas pengamat adalah wilayah kerja/binaan UPPT yang telah ditentukan.

2. Waktu Pengamatan

Seorang petugas pengamat OPT dalam 1 (satu) minggu atau 5 (lima) hari kerja melakukan kegiatan sebagai berikut:
a. Tiga (3) hari melakukan pengamatan OPT dan pembinaan petani. Pada saat pengamatan, petani pemilik kebun dilibatkan agar mereka memperoleh pengetahuan dan mengetahui kondisi kebunnya sehingga dapat segera melakukan tindakan pengendalian pada pohon yang menunjukkan peningkatan serangan penyakit atau serangan hama.
b. Dua (2) hari berikutnya membuat laporan dan kegiatan lainnya.
c. Pengamatan dilakukan secara rutin dengan interval satu minggu atau satu bulan sekali tergantung pada siklus hidup OPT dan sesuai dengan fase rentan tanaman atau saat mulai munculnya serangan. Untuk keakuratan data, sebaliknya lokasi pengambilan contoh (lokasi pengamatan) selalu berpindah setiap bulan.
d. Pengamatan untuk tujuan pemantauan dan evaluasi pengendalian dilakukan 1 minggu sampai dengan 2 bulan setelah pelaksanaan pengendalian OPT tergantung pada jenis OPT sasaran.
e. Hasil pengamatan dan pemantauan dievaluasi setiap akhir tahun untuk mengetahui perkembangan situasi OPT dan kesesuaian teknik pengamatan yang dilaksanakan.

3.Pengamatan Ekosistem


Pengamatan ekosistem kebun dilakukan oleh petani yang sudah terlatih, dilaksanakan secara rutin setiap minggu atau setiap bulan, di lokasi pengamatan yang mewakili dengan menggunakan metode pengamatan sesuai petunjuk agar menghasilkan data ekosistem secara kuantitatif dan kualitatif yang akurat.
4. Obyek Pengamatan
Obyek –obyek yang harus diamati dan dicatat pada setiap hari pengamatan meliputi gejala serangan OPT, penyebab serangan, persentase tanaman terserang, intensitas serangga, populasi OPT per unit contoh, jumlah populasi serangga
berguna/musuh alami per unit contoh, populasi serangan netral atau oraginsime lain yang ditemukan, data cuaca seperti suhu, kelembapan, curah hujan, kondisi awan dan sebagainya.

5.Pengambilan Contoh


Dalam proses pengamatan apabila tidak dapat dilakukan pada seluruh kebun, maka dilakukan pengambilan contoh berupa sebagian tanaman atau kelompok tanaman yang dinilai mewakili keadaan areal yang diamati. Untuk setiap kebun petani diambil lima unit contoh tetap yang dipilih secara acak.

6. Sasaran Pengamatan/Unit Contoh


Unit contoh yaitu unit yang diamati secara konsisten pada setiap kali pengamatan. Dilakukan agar dapat diperoleh data yang dikehendaki secara teliti. Unit contoh dapat berupa tanaman, rumpun tanaman atau bagian tanaman seperti batang, pelepah,helai daun, bunga, buah dan sebagainya, yaitu:
a. Untuk tanaman semusim unit contohnya sebaiknya baris tanaman atau jumlah tanaman (seperti 1,2 atau sejumlah tanaman tertentu).
b. Untuk tanaman tahunan unit contohnya adalah satu pohon atau bagian dari pohon seperti pelepah, daun, pucuk tanaman dan lain-lain.
Keberadaan OPT sasaran dapat diketahui melalui pengamatan populasi dan atau gejala serangannya. Teknik ini terutama diarahkan pada hama dan OPT yang dapat dilihat tanpa bantuan mikroskop.
Gejala serangan dan faktor yang mempengaruhi perkembangannya, misalnya suhu, kelembapan dan curah hujan. Teknik ini terutama diarahkan pada penyakit dan OPT yang hanya dapat dilihat dengan bantuan mikroskop.

7. Intensitas Serangan


Intensitas serangan yaitu ukuran yang menunjukkan derajat kerusakan tanaman akibat serangan OPT tertentu . Penentuan intensitas serangan OPT didasarkan pada:
a. Kepadatan populasi OPT
b. Derajad kerusakan tanaman yang ditentukan dengan scoring (berat-ringannya kerusakan).
Secara umum tingkat serangan digolongkan menjadi:
a. Berat: nyata diatas ambang rasa/kendali
b. Ringan: nyata di bawah ambang rasa/kendali
Ambang rasa atau kendali yaitu batas tertinggi kepadatan populasi OPT atau derajat kerusakan tanaman yang berdasarkan pengalaman petani secara ekonomi dan sosial dirasakan masih dapat ditolelir. Di bawah kepadatan populasi tersebut kerusakan tanaman dirasakan tidak nyata mengurangi hasil dan pendapatan petani.
Bila hasil pengamatan yang dilakukan oleh petani menunjukkan bahwa batas atau ambang rasa tersebut terlampaui, petani harus segera melakukan pengendalian untuk mencegah kerusakan atau kerugian yang lebih luas. Besar nilai ambang rasa suatu jenis OPT ini dapat berbeda antara petani dan antar kelompok tani, karena sangat dipengaruhi tempat dan waktu serta pengalaman petani.

8.Interval Pengamatan


Interval Pengamatan adalah tenggang atau jarak waktu antara suatu pengamatan sampai waktu pengamatan berikutnya, yaitu untuk:
a. Tanaman semusim, interval pengamatan minimal 1 kali seminggu.
b. Tanaman tahunan, interval pengamatan minimal 1 kali sebulan.
Pengamatan dapat juga dilakukan sebelum sampai pada siklus pengamatan berikutnya misalnya setiap petani ke kebun sekaligus melakukan pengamatan dan pencatatan hasil pengamatan.

9. Langkah Pengamatan


a. Menyiapkan bahan pengenalan OPT sasaran meliputi: gejala serangan dan kelemahan dari OPT sasaran.
b. Menyiapkan bahan Pengenalan Tanaman meliputi: periode kritis tanaman terhadap serangan OPT sasaran. Hal ini berkaitan dengan penentuan waktu yang tepat untuk pengamatan dan pengendalian OPT sasaran.
c. Menyiapkan informasi tentang inang alternatif OPT sasaran.
d. Melakukan inventarisasi luas areal tanaman pada Kabupaten pengamatan dan dirinci per kecamatan.
e. Menentukan Kecamatan dan Desa pengambilan sampel. Dari setiap kabupaten dipilih 3 (tiga) kecamatan dan dari masing-masing kecamatan dipilih 5 (lima) desa sampel yang akan diamati.
f. Urutan prioritas pemilihan kecamatan dan desa adalah:
Luas areal pertanaman, Prioritas pertama diberikan kepada Kecamatan dan Desa dengan areal pertanaman terluas (komoditi utama).
Merupakan kantong serangan atau menurut sejarah pernah terserang OPT sasaran.

10. Menentukan lokasi pengambilan sample


Dari masing-masing desa selanjutnya ditentukan 5 (lima) lokasi seluas ± 2,5H yang kompak secara diagonal lokasi tersebut dapat juga berupa hamparan areal yang saling terpisah dalam hal ini luasannya dapat kurang dari 2,5 H tetapi harus lebih dari 1,0 Ha.

11. Merencanakan data yang akan dikumpulkan di lapangan


Data yang akan dikumpulkan di lapangan berupa luas areal serangan, populasi atau intensitas serangan OPT sasaran, kondisi iklim (kelembaban, curah hujan). Sejauh mungkin dilengkapi dengan data tentang keberadaan musuh alami dan tindakan pengendalian yang telah dilaksanakan.Untuk perhitungan pendugaan kerugian hasil dilengkapi dengan data produksi dan produktivitas serta harga produk pada saat pengumpulan data.
a.Pengambilan Contoh
Pengamatan pada keseluruhan populasi tanaman tidak mungkin dilakukan. Oleh karena itu cukup dilakukan pengambilan sampel atau contoh tanaman yang diperkirakan dapat mewakili kondisi populasi yang ada.
b.Rute Pengamatan
Petugas pengamat melakukan pengamatan pada contoh yang diamati dengan arah pengamatan yang mencakup seluruh petak pengamatan yang ditentukan sebelum pengamatan. Pemilihan rute ini sangat tergantung pada kenyamanan petugas pengamat. Ada beberapa pilihan rute yang dapat digunakan seperti pola diagonal, pola zig-zag dan pola lajur sebagai berikut:
c.Kompilasi data
Data pengamatan yang diperoleh kemudian dikompilasikan setiap bulan dan digunakan untuk dasar pengambilan keputusan perlu atau tidaknya tindakan pengendalian OPT. Data pengamatan tersebut dibandingkan dengan data hasil pengamatan bulan-bulan sebelumnya untuk melihat trend atau kecenderungan serangan OPT sasaran analisa juga dilakukan terhadap luasan pengendalian, apakah ada manfaat pengendalian yang telah dilakukan.

12.Budidaya Tanaman Sehat


Budidaya tanaman sehat sebagai prinsip pertama PHT perlu diterapkan dan selalu ditingkatkan kualitasnya dengan tujuan:
a. Memperkuat ketahanan tanaman terhadap OPT.
b. Meningkatkan berfungsinya musuh alami.
Diagonal
Zig zag
Lajur Tanaman
c. Mempertahankan kestabilan agroekosistem.
d. Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap faktor-faktor cekaman lingkungan kuantitas dan kualitas produksi.
Sebagai bagian dari kegiatan pengelolan kebun untuk peningkatan produktifitas kegiatan ini dapat menekan dan mempertahankan populasi hama tetap berada di bawah ambang rasa, sehingga tidak diperlukan tindakan pengendalian secara khusus.
Kegiatan budidaya tanaman sehat dilakukan dengan mengatur lingkungan kebun sehingga menguntungkan pertumbuhan tanaman dan berfungsinya faktor pengendali alami, tetapi tidak menguntungkan atau menekan perkembangan OPT. beberapa tindakan yang dapat dilakukan misalnya sanitasi, konservasi tanaman, pemeliharaan tanaman/memperbaiki kondisi tanaman (pemupukan berimbang, pemangkasan) dan sebagainya.

13.Pelestarian dan Pemanfaatan Musuh alami


Setiap petani harus berusaha untuk melestarikan dan memanfaatkan musuh alami karena berbagai jenis musuh alami dapat mengendalikan OPT secara berkelanjutan. Kegiatan melestarikan dan memanfaatkan musuh alami dapat dilakukan dengan melakukan konservasi (pelestarian), introduksi (pemasukan), augmentasi (penguatan), inundasi ( perbanyakan massal) musuh alami.
Tujuan kegiatan konservasi atau pelestarian musuh alami adalah menjaga keberadaan populasi dan peran musuh alami yang sudah ada di ekosistem setempat. Untuk itu semua kegiatan pengelolaan kebun yang berdampak negatif bagi musuh alami setempat seperti penggunaan pestisida kimia sintetik perlu dikurangi/dihindarkan.
Teknik budidaya tanaman sehat yang dapat meningkatkan populasi dan fungsi musuh alami merupakan bentuk kegiatan konservasi musuh alami yang efektif.
Kegiatan introduksi musuh alami bertujuan untuk memasukkan musuh alami seperti predator, parasitoid dan patogen yang baru dari luar ekosistem petani setempat.
Tujuan augmentasi dan inundasi musuh alami adalah memperbanyak dan menyebarkan musuh alami ke lapangan. Musuh alami yang diperbanyak baik yang
berasal dari dalam maupun luar ekosistem. Peningkatan populasi musuh alami tidak dilakukan secara alami saja tetapi juga dengan bantuan kegiatan manusia, tujuannya meningkatkan kemampuann ekosistem dalam mengendalikan OPT.

14.Penggunaan Pestisida Nabati


Pestisida nabati yang berasal dari bahan tumbuh-tumbuhan yang ada di dalam dan di sekitar kebun petani dapat dibuat sendiri oleh petani dan digunakan secara periodik untuk menekan atau mempertahankan populasi OPT pada tingkat di bawah ambang rasa/kendali. Pestisida nabati umumnya lebih cepat terdegradasi di alam sehingga aman terhadap lingkungan.

15.Teknik Eradikasi tanaman


Eradikasi tanaman merupakan kegiatan pemusnahan tanaman yang terserang OPT karena kerusakan sedemikian beratnya sehingga dinilai tidak ekonomis lagi apabila dilakukan tindakan pengendalian kuratif. Dikhawatirkan juga bahwa tanaman terserang berat tersebut dapat menjadi sumber penular bagi tanaman lainnya yang belum terserang.

16. Penggunaan pestisida kimia


Teknik ini hanya dilakukan jika perkembangan populasi OPT sulit dikendalikan dengan teknik-teknik lainnya atau berkembang sangat cepat sehingga jauh melampaui ambang rasa/kendali.
Bila petani memutuskan menggunakan pestisida kimia maka jenis pestisida yang dipilih diusahan jenis formulasi pestisida terdaftar dengan spectrum sempit, tidak persisten (residu singkat) yang ramah terhadap lingkungan seperti tidak membahayakan musuh alami, serangga penyerbuk bunga dan sebagainya.


Referensi

Prosedur KInerja dan Standar Pengamatan dan Pengendalian OPT perkebunan. Direktorat Perlindungan Perkebunan, 2003. Pedoman Operasional Petugas Pengamat Hama Perkebunan. Direktorat Perlindungan Ditjen Perkebunan . 2007. Untung Kasumbogo, 1993. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

 

Pertanian Organik

Pertanian Organik berasal dari kata Pertanian dan Organik, Pertanian adalah salah suatu mata pencaharian agar manusia mendapatkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, yang dijadikan sarana dalam usaha tersebut berupa tanah atau lahan yang dimanfaatkan untuk bercocok tanam, ada dua perlakuan dalam bercocok tanam yaitu secara tradisionil dan modern, sedangkan Organik berasal dari dua suku kata yaitu organ dan nik, Organ adalah satu kesatuan dan nik diambil dari kata jasad renik atau Mikro Organisme.

Bercocok Tanam atau budi daya pertanian sudah dilakukan manusia sejak lama bahkan sistem pertanian tradisionil yang dilakukan nenek moyang dengan system pertanian berpindah pindah, artinya Nenek moyang kita melakukan usaha tani tidak menetap dalam satu lahan seperti sekarang ini, mereka melakukan sistem pertanian berpindah pindah karena pertama luas tanah tak terbatas kepemilikan masih bebas karena jumlah penduduk masih sedikit yang kedua memanfaatkan lahan baru yang masih subur namun system pertanian tradisionil ternyata tidak memberikan hasil yang menguntungkan untuk mendapatkan hasil yang maksimal maka Pemerintah RI menurunkan suatu Kebijakan sekitar tahun 1976  melalui revolusi hijau.

Dengan adanya Revolusi hijau telah merubah sistem pertanian tradisional yaitu sistem pertanian yang dalam bercocok tanam menggunakan sisa- sisa tanaman atau pupuk hijau baik berupa pupuk kandang ataupun penggunaan tanaman liar / gulma yang di busukan sehingga jadi sumber hara atau makanan tanaman, system pertanian tradisionil tidak dapat memenuhi kebutuhan pangan. Dengan Revolusi hijau diperkenalkan kepada masyarakat Tani tentang jenis-jenis Pupuk kimia yang dapat meningkatkan hasil yang maksimal, Namun Penggunaan pupuk buatan serta input luar lainnya secara besar-besaran menyebabkan dampak negatif berupa kerusakan sumber daya yang tidak dapat diperbarui, dan menyebabkan polusi sumber-sumber air yang berarti penurunan kualitas lingkungan.

Dalam rangka menekan dampak-dampak negatif di atas melalui tehnologi Pertanian yang lebih mutahir maka tahun 2010 diharapkan sebagai awal berkembangnya pertanian organik dengan cara yang lebih moderen dan dapat memberikan keuntungan yang sebear-besarnya bagi masarakat tani,ramah lingkungan yang dapat mewujudkan kelestarian alam dan tidak menimbulkan dampak negatif bagi konsumen......